PUFF THE MAGIC DRAGON

Long time ago, there’s a magic dragon named Puff. He was lived in the land called Honnah Lee. In this land the weather was always auntumn mist.

One day, a little boy named Jackie Paper met Puff the magic dragon and they became friend. Jackie paper was a kind boy. He always visited puff in Honnah Lee and brought puff strings and sealing wax and other fancy stuff . One day, they travel on a boat with billowed sail accross the sea. they met Noble king and Princess, they gave a gift to puff and jackie. it was a kingdom’s key. So puff and jackie could visited the kingdom anytime.

Puff lives forever. He is magic dragon but not so jackie paper. A few months have passed, and jackie paper stricken serious illness, puff was very sad. he ceased his fearless roar. His head was bent in sorrow, green scales fell like rain. puff no longer went to play along to cherry lane. Because without his life-long friend, puff could not be brave. So puff that mighty dragon sadly slipped into his cave. (narrative text by Ikbar Fathimah Az-zahra)

Let’s sing a song!! 😀

Puff, the magic dragon lived by the sea
And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee,
Little Jackie paper loved that rascal puff,
And brought him strings and sealing wax and other fancy stuff. oh

Puff, the magic dragon lived by the sea
And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee,
Puff, the magic dragon lived by the sea
And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee.

Together they would travel on a boat with billowed sail
Jackie kept a lookout perched on puffs gigantic tail,
Noble kings and princes would bow whenever they came,
Pirate ships would lower their flag when puff roared out his name. oh!

Puff, the magic dragon lived by the sea
And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee,
Puff, the magic dragon lived by the sea
And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee.

A dragon lives forever but not so little boys
Painted wings and giant rings make way for other toys.
One grey night it happened, Jackie paper came no more
And puff that mighty dragon, he ceased his fearless roar.

His head was bent in sorrow, green scales fell like rain,
Puff no longer went to play along the cherry lane.
Without his life-long friend, puff could not be brave,
So puff that mighty dragon sadly slipped into his cave. oh!

Puff, the magic dragon lived by the sea
And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee,
Puff, the magic dragon lived by the sea
And frolicked in the autumn mist in a land called Honah Lee.

Advertisements

Rainbow’s life

            Sepulang sekolah aku langsung menaiki tangga menuju kamar. “jangan lupa cuci tangan- cuci kaki kalo sudah pulang sekolah” kata mamaku dari lantai bawah. ”aku capek ma!” bentakku kasar diikuti dentuman keras pintu kamar yang kubanting ’BRAAK!!’. Aku sudah membayangkan mamaku yang sedang beristighfar sambil mengelus-eluskan dadanya yang mungkin tidak menyangka seorang zira melakukan hal itu.

            Aku melempar tas selempang warna abu-abuku dan menjatuhkan tubuhku ke kasur kemudian aku melihat layar handphoneku ”NO MESSAGE” ucapku pelan. ’Bagus’ pikirku.

*****

6 bulan yang lalu…

Hari ini pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Sun selaku guru mata pelajaran tersebut menjelaskan tentang tugas bulanan yang nantinya akan diuji praktekkan untuk akhir semester nanti, tugas tersebut adalah membuat karya tulis dalam bentuk skripsi secara berkelompok. Kebetulan aku satu kelomnpok dengan aro dan tiga orang lainnya.

Hm… Aro bukanlah cowok yang mungkin dari namanya terlihat keren. Dia hanya teman baikku yang sifatnya ramah, suka melucu dan pintar.

”.. jadi intinya noer sama aku buat penyusunan dan isi, zira bagian pengetikan dan penyuntinyan akhir, yang cowok bagian antar-jemput dan nanti pulang sekolah kalian kerumahku buat bikin konsepnya.” kata mita menjelaskan tugas kami masing-masing.

Seperti yang sudah disepakati sebelumnya, sepulang sekolah kami pun pergi kerumah mita. ”kerja dong!” kata mita ”kerja apaan?” balas fardan ”ya bantu bantu gitu kek” sambung noer. Aku dan aro hanya tertawa melihat ketiga teman kami berdebat. ”Haha… Yaudah deh aku sama zira pulang dulu ya guys” pamit aro pada mereka ”aku duluan ya” kataku juga. Karena rumahku dan aro jalannya searah, makanya sekalian aja aku nebeng dia.

”Makasih ya” ujarku setelah turun dari motornya. ”Eh, tunggu,Ra!” cegahnya sembari menarik tangan kananku, aku pun berbalik kearahnya. ”Ada apa?” tanyaku sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya. ”Nggak ada apa-apa, aku cuma mau bilang… Hati-hati ya”jawabnya sambil tersenyum ”Oh, iya tenang aja lagi” kataku sambil mengangguk.

Sore itu setelah aku tidur siang, aku memperoleh sms dari aro.

”Sore, lg ngpain” tumben banget nih anak sms, pikirku

”Sore juga, g lg ngpa2in. Da pa ya?” balasku. Disitulah awal perbincangan kami lewat sms, sejak itu kami berdua keseringan smsan. Mulai dari jam 4 pagi setelah sholat subuh sampai sebelum berangkat sekolah, dilanjut sepulang sekolah sampai malam sebelum tidur.

Sebenarnya hubungan kami hampir seperti ’TTM’. Tetapi aku hanya menganggapnya sebagai teman baikku sekaligus tempat mencurahkan semua perasaanku jika ada masalah atau ketika aku butuh saran.

***

Aku lari terburu- buru memasuki halaman sekolah yang sudah sepi. Itu tandanya aku telah melewati bel pukul 7 dan semua murid sudah masuk ke kelas masing- masing. Kulihat teman- temanku duduk dengan rapi ketika kubuka pintu kelasku, untung aja gurunya belum datang. Yah, kebiasaanku dari zaman baheula masih aja dipelihara, suka telat. Tapi tetep aja aku termasuk murid teladan, nilaiku masih bagus kok.

”ZIRAA! Berapa kali kamu telat?!” kata fidri teman sebangkuku yang miss perfect tapi pengatur dan sok tahu.

”Tenang, Neng. Baru yang ke sembilan juga” jawabku enteng tanpa rasa bersalah

”Yang ke sembilan aja bangga”

”Dari pada aku bolos, mending telat. Ya nggak?”

”Ah! terserah deh, nggak penting juga”

“Yee.. kalo ngga penting mah, ngga usah dibahas” kataku membela.

“Maksudku ada yang lebih penting dari itu..”

“Oh ya, apaan?” selaku agak kaget. Belum sempat fidri membuka mulutnya, Bu Husna menyebut namaku.

”Az-zira devagina adraini” katanya ”ya bu?” jawabku menoleh ke depan ”kerjakan soal nomor 13 dan 20” ”Baik bu” aku memalingkan wajahku sebentar kearah fidri dan berbisik pelan ”ntar janji harus cerita!”

Selesai mengerjakan soal aku berbalik menuju mejaku, sempat kulihat fidri berbicara pada aro yang duduk di belakangnya dan perbincangan tersebut  berakhir ketika aku kembali.

”Pada ngobrol apaan sih?” tanyaku pada mereka

”Nggak ada apa-apa kok, Ra” kata aro ”Iya ra nggak ada apa-apa kok udah deh tenang aja” lanjut fidri ”Kalian pada gitu banget sama aku, aku kan juga sahabat kalian. Kok aku nggak dikasih tau?” ”Zira, udah ya.. udah bel tuh. Aku duluan ya” pamit aro sambil menepuk bahuku

Aku benar benar tidak mengerti dengan kelakuan kedua sahabatku ini. Mereka aneh dan tidak seperti biasanya. Kali ini mereka sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Dan seharian itu aku tak menghiraukan sapaan mereka bahkan sampai mereka menggodaku berkali-kali.

’Zira.. marah ya? Ntar kamu juga bakalan tau sendiri kok’ kata aro di pesan masukku. Tetapi aku tak membalas pesan itu, kemudian aku teringat janji fidri untuk menceritakan hal penting yang dibicarakannya di sekolah tadi.

Aku pun langsung menombol keyboard di handphoneku, mengirim pesan kepada fidri.

’Fid, tadi kamu mau cerita apa?’

Beberapa detik kemudian, datanglah balasan sms dari fidri.

’Oh iya, sori ya ra tdi lupa yang cerita. Abisnya kamu keburu ngambek sih. Kalo gitu ntar sore kamu kerumahku aja biar jelas ceritanya’

Aku melirik jam dinding, masih jam 1 siang. Aku pikir lebih baik aku menyelesaikan tugas karya ilmiah. Setelah itu baru bebas internetan.

Tak lama kemudian..

”Zira.. ayo makan siang dulu sayang. Makanannya sudah siap tuh di meja makan. Nanti keburu dingin lo” kata mamaku tersayang.

”Iya ma.. tunggu sebentar” jawabku dari ruang keluarga

Usai makan siang dengan dengan menu gurame asam manis kesukaanku, aku kembali ke ruang keluarga menamui laptopku.

Tak terasa sudah jam 3 sore. Aku bersiap-siap pergi kerumah fidri. Aku mengenakan kaos warna biru mencolok dan jaket oranye dengan print bergambar pelangi yang menjadi favoritku.

Sesampai disana, aku memarkirkan sepeda fixieku di halaman rumah fidri.

”Cerita disini aja fid” ujarku mengarah ke teras.

”Jadi gini, kamu tau aro kan?” tanya fidri yang sedikit mengagetkanku. Aro? Ada apa dengan aro?

”Kenapa tuh anak? Dia jadian sama kamu? Wah selamat ya.. kalian emang cocok. Nggak nyangka banget kalo ternyata kedekatan kalian selama ini jadi semacam relationship gitu. Kapan traktiran?” tanyaku berambisi disertai senyum sumringah dan ocehan panjang lebarku yang khas sampai fidri tidak kuberi kesempatan untuk menjawab.

”Tenang dulu, Ra. Justru itu yang mau aku kasih tau ke kamu. Dia ngedeketin aku karena dia suka sama kamu” setelah fidri berkata begitu, senyum sumringahku berubah menjadi ekspresi kaget sekaligus bingung. Aku tak bisa berkata apapun kecuali ”Hah?” aku menelan ludah dan melanjutkan perkataanku.

”Aku masih nggak ngerti sama kalimat terakhirmu”

”Jadi gini, biar kamu jelas.” fidri memelankan suaranya ”Dia ngedeketin aku Cuma pengen tau tentang kamu. Hobimu, Kesukaanmu, pokoknya semua tentang kamu Ra”

Aku masih diam merenungkan perkataan fidri barusan.

”… nggak jarang kamu lihat aku sama aro bicara berdua, makanya jangan salah paham dulu, Cuma gara- gara kita nggak mau cerita ke kamu. Dan karena itu aro minta tolong aku buat ngedeketin kamu. Aku Cuma…”

“STOP!” kataku memotong kalimat fidri, fidri terdiam menghentikan ocehannya

“Kamu bercanda kan Fid? Biar aku ke-GRan. Ya ampun fidri lelucon kamu bagus banget. Aku aja hampir percaya gara- gara ngedengerin omong kosong itu”

”Aku nggak bercanda Ra. Aku serius. Kalo kamu nggak percaya, liat aja handphoneku” katanya sambil menyodorkan HPnya padaku.

Aku melihat semua pesan masuk dari aro di handphone fidri. Aku tidak menyangka bahwa semua yang diceritakan fidri itu benar. Aku membaca semua curhatan aro pada fidri tentang aku.

”Tunggu dulu!” kataku tiba- tiba memecahkan keheningan.

”Nggak mungkin, ini semua pasti rekayasa kalian buat ngerjain aku, ya kan?” ujarku masih tidak percaya dengan semua ini.

”Zira, ini bukan rekayasa. Percaya deh sama aku. Aku Cuma..”

“Denger ya Fid! Aro tuh cocoknya sama kamu. Karena kamu tau semua hal tentang dia dibanding aku. Aku pulang dulu ya fid. Assalamu’alaikum” pamitku agak sinis.

”Walaikumsalam. Tunggu Ra, aku cuma…”

Aku tak menghiraukan panggilan fidri. Aku langsung mengambil sepeda fixieku dan segera pulang ke rumah.

***

Malam harinya, ketika sedang asyik belajar. Aku kembali teringat cerita fidri tadi sore, kemudian aku merenungkan kejadian- kejadian sebelumnya bersama aro. Aku masih ingat kejadian tempo hari lalu saat dia mengantarkan aku pulang dari rumah mita.

Tiba- tiba ada sebuah perasaan yang muncul ketika aku mengucapkan kata ”Aro morandy dene” secara tidak sadar. Aku menghela nafas panjang dan sedikit terisak.

Ada apa denganku? Jangan- jangan aku… Nggak mungkin! Nggak mungkin aku suka sama aro, dia kan sahabatku. Nggak mungkin aku suka sama sahabatku sendiri. Sadar zira! Sadar!

***

Ketika jam istirahat tiba aku mengajak deya untuk pergi ke kantin. Setelah membeli jus tutti frutti, aku dan deya kembali ke kelas masing- masing. Kalian perlu tahu kalau aku dan deya bersahabat dari SD yang alhamdulillah sampai sekarang masih satu sekolah denganku, meskipun beda kelas tapi persahabatan kami tetap awet.

Belum sampai kedalam kelas aku melihat melalui jendela, aro duduk di bangku fidri. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, aku malah berbalik menuju kelas deya dengan terburu- buru dan ada rasa cemburu dihatiku. Aku mempercepat lagkah kakiku dan setelah menemui deya, aku langsung menceritakan semua kejadian dari awal.

”Udahlah Ra, Aro bukan siapa- siapa kamu kan. Ngapain kamu sampai kayak gini. Setiap hari kamu akan semakin tertekan dan semakin kecewa dan kayaknya kamu mulai suka sama aro.” kata deya menasehatiku.

”Kayaknya kamu bener De, aku emang mulai suka sama aro. Semenjak fidri kasih tau aku soal itu. Dan katanya, fidri bakalan bantuin aro buat ngedeketin aku. Jujur ya, aku seneng banget setelah fidri bilang gitu. Tapi nyatanya…”

”Malah fidri yang deket sama aro?” ujar deya menebak lanjutan kalimatku.

”Kamu bener De, makasih ya udah jadi temen curhat aku. Yaudah kalo gitu aku balik ke kelas dulu ya” pamitku pada deya yang hanya menjawabnya dengan mengangguk.

Setiap hari, setiap jam istirahat aku pergi ke kelas deya untuk menghindar dari aro dan fidri. Yah, menghindar dari rasa sakit yang teramat sangat karena hubungan kedua sahabatku itu semakin hari semakin dekat bahkan sangat dekat.

”Kamu dari mana aja sih Ra? Kenapa nggak balik lagi ke kelas?” tanya noer ketika aku sudah kembali.

Aku ingin mengatakan ”Aku habis ngehindar dari orang munafik yang bikin aku sakit hati” tapi yang keluar dari mulutku adalah ”Aku habis jalan- jalan keliling sekolah” jawabku salah tingkah sambil menunggu reaksi mereka. Aro dan fidri hanya memperhatikan tingkah lakuku yang aneh, mita dan fardan hanya bisa meng-OH-kan saja, dan noer hanya mengangguk.

Langsung aja ya, semakin hari tingkah laku aro makin terlihat mencolok kalau dia memperhatikan aku dikelas. Bahkan teman-teman sekelas sering mengolok-olok kami berdua, dan semenjak itu aku dan aro jarang berbicara dan bertatap muka apalagi setelah tugas karya ilmiah itu selesai.

Sore harinya aku kembali mendapat pesan dari aro yang intinya dia nembak aku lewat sms. Tapi sebelumnya aku masih berpikir panjang. Apa jadinya kalo pacaran sekelas, sama sahabat sendiri lagi. Trus gimana sama fidri setelah kedekatan mereka selama ini? Dan akhirnya aku menerimanya menjadi pacarku.

’Ok, aku mau’ balasku singkat

Tak terasa sudah 4 bulan kami jadian, hubungan kami pun baik-baik saja hingga suatu hari aku melihat aro sedang duduk bermesraan berdua dengan fidri dikelas yang kosong. Seketika itu juga aku tak dapat membendung air mataku dan bergegas pulang kerumah.

Aku tidak tahan lagi setelah mengetahui bahwa aro selingkuh dan yang lebih menyakitkan lagi sahabatku sendiri menusukku dari belakang. Fidri adalah musuh dibalik selimut, seharusnya aku tahu dari awal soal ini.

Aku pulang dengan membawa emosi bahkan tega-teganya aku membentak ibuku sendiri sepulang dari tempat itu. Padahal beliau tidak bersalah.

*****

Aku masih berada di atas kasur dan air mataku menetes membasahi bantalku. Ah! Bodohnya aku. Aku segera menghapus air mataku dan menemui mamaku di lantai bawah.

”Ma, maafin zira ya ma. Tadi zira nggak maksud bentak mama. Tadi zira emosi” pintaku pada mama.

”Zira, udah nggak apa-apa kok. Mama udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf sama mama” jawab mamaku masih penuh dengan kasih sayang.

”Makasih ma, zira sayang banget sama mama” ujarku sambil mencium pipi beliau.

Ketika aku kembali ke kamarku, kulihat layar handphoneku menyala. Ternyata ada 1 pesan dari aro.

”Bunda sayang…” katanya tanpa rasa bersalah yang masih menggunakan kata sayang kami berdua. Bunda? Emang aku emakmu apa? Aku membiarkan pesan itu tergelar di layar handphoneku.

***

Yah, semester ini banyak sekali cerita. Aku lulus dengan nilai memuaskan dan kedua orang tuaku bangga akan kabar gembira ini. Nilai karya tulis ilmiahku B+ dan aku sudah putus dengan aro, masa bodo dengan fidri dan yang paling penting aku tidak lupa untuk selalu bersyukur.

Hidup ini penuh warna. Yeah, this life is like colours of rainbow. My life always be a rainbow’s life ….   by azmac raifawh :DDD